Di Balik Deretan Buku yang Berdebu

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siti Ainiyah

Siti Ainiyah

Di Balik Deretan Buku yang Berdebu

Oleh: Siti Ainiyah
Mahasiswi IAI Al-Khairat Pamekasan

OPINI – Indonesia dikenal sebagai negara besar dengan kekayaan budaya, sejarah, dan sumber daya manusia yang melimpah. Namun, di balik segala potensi itu, terdapat satu persoalan mendasar yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bersama: rendahnya minat baca masyarakat.

Berbagai survei internasional maupun nasional berkali-kali menunjukkan bahwa tingkat literasi Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain, bahkan di kawasan Asia Tenggara.

Fakta ini bukan sekadar angka statistik, melainkan gambaran nyata tentang kualitas pola pikir dan budaya belajar masyarakat kita. Fenomena rendahnya minat baca dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tempat umum, kendaraan, ruang tunggu, hingga lingkungan sekolah, mayoritas orang lebih sibuk menatap layar ponsel dibanding membuka buku. Sayangnya, sebagian besar waktu itu dihabiskan untuk menonton video singkat, bermain gim, atau menggulir media sosial tanpa tujuan yang jelas. Sangat jarang terlihat seseorang menikmati buku atau membaca tulisan panjang yang mengandung gagasan mendalam.

Kebiasaan mengonsumsi informasi secara instan perlahan membentuk pola pikir yang serba cepat dan dangkal. Masyarakat menjadi terbiasa menerima potongan berita, kutipan singkat, atau konten visual tanpa proses berpikir yang kritis.

Akibatnya, kemampuan memahami persoalan secara utuh semakin melemah. Banyak orang mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar, sulit membedakan fakta dan opini, bahkan gampang terprovokasi oleh berita bohong yang tersebar luas di media sosial.

Selama ini, rendahnya budaya membaca sering dikaitkan dengan mahalnya harga buku atau terbatasnya akses perpustakaan. Memang, persoalan tersebut masih menjadi hambatan, terutama di daerah terpencil. Namun, di era digital saat ini, akses terhadap bacaan sebenarnya jauh lebih mudah dibanding sebelumnya.

Buku elektronik, jurnal, artikel ilmiah, hingga berbagai sumber pengetahuan tersedia secara gratis atau dengan harga yang terjangkau. Persoalan utamanya bukan lagi sekadar ketersediaan bahan bacaan, melainkan rendahnya minat dan kebiasaan membaca itu sendiri.

Budaya membaca belum tumbuh kuat dalam kehidupan masyarakat. Di banyak keluarga, membaca belum menjadi aktivitas rutin yang menyenangkan. Buku masih sering dianggap sebagai simbol tugas sekolah atau kewajiban akademik semata, bukan sebagai sarana memperluas wawasan dan menikmati pengetahuan.

Di lingkungan pendidikan pun, metode pembelajaran terkadang belum mampu menumbuhkan rasa cinta membaca pada siswa. Membaca lebih sering dipandang sebagai beban daripada kebutuhan.

Padahal, membaca merupakan fondasi utama lahirnya masyarakat yang cerdas, kritis, dan maju. Bangsa yang malas membaca akan kesulitan berinovasi, lemah dalam persaingan global, dan mudah terpecah oleh informasi yang menyesatkan.

Tidak heran jika hoaks begitu cepat menyebar di tengah masyarakat. Rendahnya minat baca membuat banyak orang tidak terbiasa memverifikasi informasi atau berpikir secara sistematis sebelum mempercayai sesuatu.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang terancam bukan hanya kualitas pendidikan, melainkan juga masa depan bangsa. Ketika masyarakat berhenti membaca, pada saat yang sama mereka sedang menutup pintu menuju pengetahuan dan kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Padahal, di balik setiap halaman buku terdapat ide, solusi, pengalaman, dan pemikiran besar yang dapat membuka cara pandang baru terhadap dunia.

Karena itu, memulihkan budaya membaca harus menjadi gerakan bersama. Tanggung jawab ini tidak hanya berada di tangan pemerintah atau sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas. Anak-anak perlu dibiasakan melihat buku sejak dini.

Lingkungan harus mampu menciptakan suasana bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan dan membanggakan. Kita perlu menanamkan pemahaman bahwa membaca bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan hidup yang menentukan kualitas masa depan seseorang.

Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang maju hanya dengan teknologi dan pembangunan fisik semata. Kemajuan sejati lahir dari masyarakat yang gemar belajar, berpikir kritis, dan terus memperkaya pengetahuan.

Maka, langkah paling sederhana namun paling penting yang dapat kita lakukan hari ini adalah kembali membuka buku, mulai membaca, dan tidak berhenti belajar.

Penulis : Siti Ainiyah

Editor : WH

Berita Terkait

Kualitas Guru dan Tenaga Pendidik: Kunci Utama Pendidikan Berkualitas
Hari Pendidikan Nasional: Refleksi Kritis atas Akar Masalah Pendidikan Indonesia
PMII di Usia 66 Tahun: Meneguhkan Tradisi Intelektual, Menyongsong Peradaban
Diplomasi Ekonomi yang Gagal dari Kepentingan Nasional, Kunjungan Luar Negeri Presiden Berujung pada Ekspansi Impor bukan Penguatan Ekspor
Satu Tahun Kepemimpinan Fauzi–Imam: Evaluasi Pembangunan Kepulauan Masih Menyisakan Catatan Kritis
Politisi Jadi Mahkamah Konstitusi dan Bank Indonesia: Antara Kepentingan Publik dan Kepentingan Elit Politik
Dinamika Politik, Kebijakan Publik, dan Arah Ekonomi: Membaca Masa Depan Tata Kelola Negara
Mundurnya Syahwan Efendi dari Ketua Pansel Sekda Sumenep: Manuver Politik atau Langkah Etis?

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:50 WIB

Di Balik Deretan Buku yang Berdebu

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:22 WIB

Kualitas Guru dan Tenaga Pendidik: Kunci Utama Pendidikan Berkualitas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 21:22 WIB

Hari Pendidikan Nasional: Refleksi Kritis atas Akar Masalah Pendidikan Indonesia

Jumat, 17 April 2026 - 16:37 WIB

PMII di Usia 66 Tahun: Meneguhkan Tradisi Intelektual, Menyongsong Peradaban

Jumat, 27 Februari 2026 - 10:54 WIB

Diplomasi Ekonomi yang Gagal dari Kepentingan Nasional, Kunjungan Luar Negeri Presiden Berujung pada Ekspansi Impor bukan Penguatan Ekspor

Berita Terbaru