Owner PT Mahaputera Nusantara Ungkap Operasi Tapal Kuda MAKAYASA Mulai Kuasai Jalur Distribusi Jawa Timur
SETARAJATIM.COM, SUMENEP – Ekspansi besar-besaran yang dilakukan MAKAYASA melalui program “Operasi Tapal Kuda” mulai menunjukkan perkembangan signifikan di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Pergerakan distribusi yang sebelumnya hanya dipandang sebagai aktivitas pemasaran biasa, kini mulai berkembang menjadi pembentukan jaringan distribusi terintegrasi dengan sistem kontrol wilayah yang masif.
Hal tersebut disampaikan Owner PT Mahaputera Nusantara, H. Supriyadi yang akrab disapa H. Adi, pada Jumat 22 Mei 2026.
Menurut H. Adi, MAKAYASA saat ini tidak hanya fokus pada penjualan produk semata, melainkan membangun kekuatan market jangka panjang melalui pembentukan jalur distribusi hidup di berbagai daerah.
“Ini bukan lagi sekadar aktivitas sales biasa. Sekarang sudah masuk fase pembentukan Distribution Control Area, di mana setiap wilayah mulai terkoneksi, terkunci, membentuk repeat order, dan membangun jalur distribusi yang hidup,” ujar H. Adi.
Dalam perkembangan terbaru Operasi Tapal Kuda, wilayah Jember menjadi salah satu daerah dengan progres paling agresif dengan capaian sekitar 80 persen. Repeat order mulai terbentuk dan jalur distribusi disebut mulai stabil.
6Sementara Situbondo dan Lumajang masing-masing telah mencapai progres 70 persen. Di Situbondo, struktur wilayah mulai terbentuk kuat dan pola dominasi area mulai terlihat.
Sedangkan di Lumajang, pergerakan tim motoris dinilai semakin cepat dan konsisten sehingga penetrasi market meluas ke berbagai titik baru.
Untuk wilayah Bondowoso, progres operasi saat ini mencapai 40 persen dan masih berada pada tahap pembangunan pondasi distribusi. Meski demikian, potensi pertumbuhan repeat order mulai terlihat.
Sedangkan Probolinggo dan Banyuwangi masih berada pada fase awal pembukaan jalur distribusi dengan progres sekitar 25 persen. Namun respon market di kedua wilayah tersebut dinilai cukup positif.
Tidak hanya memperluas wilayah operasi, MAKAYASA juga mencatat percepatan eksekusi lapangan yang cukup tinggi.
“Sekarang kecepatan eksekusi lapangan sudah mencapai sekitar 200 outlet baru per hari,” ungkap H. Adi.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa setiap hari jalur distribusi baru terus dibuka, titik market baru mulai hidup, dan awareness MAKAYASA semakin meluas di masyarakat.
Melihat percepatan tersebut, MAKAYASA mulai membangun sistem pengendalian internal yang lebih kuat melalui pembentukan MCS atau Makayasa Control System.
Divisi ini akan menjadi pusat kendali operasional yang mencakup kontrol finansial, distribusi, hingga operasional lapangan.
“Tujuannya menjaga kesehatan cashflow, menjaga kestabilan distribusi, memastikan operasi berjalan presisi, dan menjaga percepatan tetap terkontrol,” jelasnya.
Selain MCS, MAKAYASA juga membentuk SKSM atau Satuan Kendali Senyap Makayasa, yakni unit pengawasan internal yang bertugas melakukan monitoring lapangan, validasi pergerakan wilayah, pengawasan ritme distribusi, hingga membaca potensi gangguan operasi.
Menurut H. Adi, dalam operasi skala besar, ancaman tidak hanya datang dari kompetitor, tetapi juga dari lemahnya kontrol distribusi dan jalur market yang perlahan mati tanpa terdeteksi.
Setelah kawasan Tapal Kuda mulai terbentuk, MAKAYASA kini bersiap melakukan ekspansi baru ke wilayah barat Jawa Timur.
Beberapa daerah yang masuk target pengembangan berikutnya di antaranya Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro.
Wilayah tersebut dinilai memiliki karakter market yang kuat, kultur yang cocok dengan pola penetrasi MAKAYASA, serta potensi repeat order tinggi dengan jalur distribusi strategis.
“MAKAYASA tidak sedang membangun penjualan semata. Kami sedang membangun jaringan, jalur hidup, sistem distribusi, dan kekuatan market jangka panjang,” tegas H. Adi.
Dengan percepatan ekspansi yang terus berjalan, Operasi Tapal Kuda disebut baru memasuki tahap awal dalam pembentukan jaringan distribusi MAKAYASA yang lebih luas di Indonesia.
Penulis : WH
Editor : FA
















