Gen Z Dikepung Informasi, Muhammad Nafis Ingatkan Pentingnya Menemukan Arah Hidup
SETARAJATIM.COM, MALANG – Akademisi muda asal Kabupaten Sumenep, Muhammad Nafis, menyoroti tantangan besar yang dihadapi Generasi Z di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi generasi muda saat ini bukan kehilangan identitas, melainkan krisis arah hidup akibat melimpahnya informasi.
Pandangan tersebut disampaikan Nafis dalam forum bedah buku Gen Z dalam Pusaran Krisis yang digelar dalam rangkaian Milad ke-23 Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) Malang, Minggu (14/6/2026).
Forum yang berlangsung interaktif itu menghadirkan Direktur Eksekutif Civika.id, Muallifah, M.Sc., serta advokat dan pemerhati kebijakan publik, Erha Su’ud Abdullah, sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Muallifah menyoroti posisi perempuan di tengah perubahan zaman. Menurutnya, perempuan saat ini memiliki ruang yang semakin luas untuk berkembang dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Ia menegaskan bahwa perempuan tidak boleh kehilangan arah dan potensi dirinya setelah memasuki kehidupan rumah tangga. Relasi laki-laki dan perempuan dalam keluarga harus dibangun secara setara agar keduanya dapat tumbuh dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki.
“Perempuan hari ini tidak hanya ingin dinikahi, tetapi juga ingin tetap bertumbuh. Pernikahan bukan akhir dari perjalanan perempuan, melainkan bagian dari proses aktualisasi dirinya,” ujarnya.
Sementara itu, Erha Su’ud Abdullah menyampaikan pandangan kritis mengenai kesiapan Generasi Z dalam menghadapi tantangan zaman. Ia mempertanyakan sejauh mana kontribusi nyata generasi muda di tengah kemudahan akses teknologi dan informasi yang mereka miliki.
“Generasi Z hari ini sudah bisa apa?” tanyanya di hadapan peserta forum.
Menurut Erha, kemajuan teknologi semestinya mampu mendorong generasi muda melahirkan karya dan solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Karena itu, ia mengaku belum sepenuhnya yakin terhadap kesiapan sebagian Generasi Z apabila potensi besar yang dimiliki tidak dibarengi dengan keberanian mengambil peran.
“Saya belum sepenuhnya yakin terhadap Generasi Z jika potensi besar yang mereka miliki tidak diiringi dengan karya, keberanian mengambil peran, dan kemampuan menyelesaikan masalah,” tegasnya.
Menanggapi berbagai pandangan tersebut, Muhammad Nafis menilai Generasi Z sejatinya memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan. Namun, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya, yakni krisis orientasi hidup di tengah banjir informasi digital.
“Generasi Z tidak kehilangan identitas. Mereka tahu siapa dirinya dan berasal dari mana. Tetapi mereka sering kehilangan arah. Mereka hidup di tengah begitu banyak informasi, opini, dan pengaruh yang datang setiap hari sehingga kesulitan menentukan tujuan hidup yang benar-benar ingin diperjuangkan,” jelas dosen Universitas Islam Malang (Unisma) tersebut.
Menurut Nafis, persoalan terbesar generasi muda saat ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan kesulitan menentukan arah di tengah melimpahnya informasi yang tersedia.
Meski demikian, ia tetap optimistis terhadap masa depan Generasi Z. Nafis menegaskan bahwa sejarah telah membuktikan bagaimana anak muda selalu menjadi motor penggerak perubahan dalam setiap fase peradaban.
Dalam sejarah Islam, ia mencontohkan sosok Usamah bin Zaid yang dipercaya Rasulullah SAW menjadi panglima perang di usia muda. Sementara dalam sejarah Indonesia, tokoh-tokoh seperti Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Wikana, hingga para pelopor Sumpah Pemuda menjadi bukti bahwa perubahan besar kerap lahir dari keberanian generasi muda membaca zamannya.
“Catatan sejarah menunjukkan bahwa anak muda bukan sekadar pelengkap peradaban. Mereka adalah motor penggerak perubahan. Karena itu saya masih yakin, bahkan haqqul yakin, bahwa Generasi Z memiliki potensi besar untuk memimpin masa depan bangsa,” katanya.
Sebagai solusi, Nafis menawarkan tiga hal yang perlu diperkuat oleh generasi muda, yakni kompetensi, kolaborasi, dan aksi. Ketiga aspek tersebut dinilainya menjadi fondasi penting agar generasi muda tidak hanya mampu memahami persoalan zaman, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
“Kompetensi membuat kita mampu. Kolaborasi membuat kita kuat. Dan aksi membuat perubahan itu benar-benar terjadi,” tegasnya.
Menutup pemaparannya, Nafis mengajak generasi muda untuk mengenali dirinya terlebih dahulu sebelum berupaya mengubah lingkungan di sekitarnya.
“Sebelum mengubah dunia, kenalilah diri sendiri. Sebelum mengurus orang lain, temukan terlebih dahulu arah hidup kita. Sebab masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang dimiliki generasi mudanya, tetapi oleh seberapa jelas arah yang ingin mereka tuju,” pungkasnya.
Penulis : Adi
Editor : Yud
















