Merpati Gingging Mendunia, Perhatian Pemkab Sumenep Ditunggu
SETARAJATIM.COM, SUMENEP – Merpati Gingging (MGG), merpati khas Desa Gingging, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dinilai memiliki potensi besar menjadi ikon daerah. Namun, potensi yang disebut telah menembus pasar penghobi nasional itu dinilai masih membutuhkan dukungan lebih serius dari pemerintah daerah.
Para pecinta MGG kini mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep agar tidak sekadar membiarkan komunitas bergerak sendiri. Mereka berharap kontes MGG masuk dalam kalender resmi event daerah sehingga keberadaan merpati khas Gingging semakin dikenal luas.
Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan silaturahmi dan ngopi bareng yang dirangkai dengan mini kontes di sekitar Gunung Pegga’, Desa Gingging, Minggu (25/10/2026). Kegiatan itu diikuti ratusan merpati dari berbagai wilayah, sekaligus menjadi bukti bahwa MGG memiliki basis penggemar yang terus berkembang.
Ketua Panitia, Habibi, menyebut peserta datang dari sejumlah kecamatan di Sumenep, di antaranya Gapura, Batang-Batang, dan Batuputih, serta wilayah lainnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar ajang berkumpul para penghobi, melainkan bagian dari upaya menjaga eksistensi dan mengembangkan potensi MGG. Melalui pertemuan komunitas, para penggemar juga berbagi pengalaman mengenai perawatan dan pengembangan merpati khas tersebut.
Ironisnya, geliat komunitas belum diikuti agenda resmi daerah yang memadai. Habibi mengungkapkan, kontes MGG selama ini lebih banyak diselenggarakan secara mandiri oleh para pecinta merpati. Sementara itu, kontes berskala besar yang masuk dalam kalender Pemerintah Kabupaten Sumenep masih perlu diperjuangkan.
Padahal, menurut Habibi, popularitas MGG tidak lagi terbatas di Madura. Kontes merpati jenis ini disebut telah menjangkau berbagai kota di Indonesia, membuka peluang bagi Sumenep untuk mengangkat potensi lokal menjadi daya tarik yang lebih luas.
“MGG ini sebenarnya bisa menjadi ikon Kabupaten Sumenep, bahkan menjadi ciri khas Kota Keris. Karena itu, kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah daerah agar potensi ini bisa dikembangkan lebih luas,” ujar Habibi.
Ia berharap Pemkab Sumenep mulai mengambil langkah konkret dengan memasukkan kontes MGG ke dalam kalender event daerah. Dengan agenda resmi dan dukungan yang terarah, kontes tersebut berpeluang berkembang menjadi kegiatan tahunan yang mendatangkan peserta dari luar Madura.
Dukungan serupa disampaikan Kepala Desa Gingging, Habi. Ia menilai penyelenggaraan kontes berskala besar dengan dukungan pemerintah dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan MGG kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurutnya, keberadaan MGG bukan hanya kebanggaan komunitas penghobi, tetapi juga potensi lokal Desa Gingging yang layak mendapat ruang pengembangan. Pemerintah desa mengapresiasi konsistensi para pecinta MGG yang selama ini terus menjaga eksistensinya melalui kegiatan komunitas.
“Kami berharap, MGG bisa menjadi ikon baru Kabupaten Sumenep, karena peminatnya bukan hanya warga Madura, tetapi sudah menasional,” tandasnya.
Kini, tantangannya bukan semata menjaga popularitas MGG di kalangan penghobi, melainkan bagaimana potensi tersebut mendapat dukungan nyata agar bisa menjadi identitas daerah.
Masuknya kontes MGG ke kalender event resmi Pemkab Sumenep diharapkan menjadi langkah awal untuk membawa kebanggaan Desa Gingging itu ke panggung yang lebih besar.
Penulis : Efa
Editor : You
















