Guru Sumenep Tembus Podium Kompetisi AI Jatim, Dr. Rusliy Dorong Pendidik Berani Berinovasi
SETARAJATIM.COM, SUMENEP – Guru dari daerah tak hanya dituntut mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga harus mampu mengambil peran di dalamnya. Hal itu dibuktikan Mifta Febriansyah, S.Kom., guru PPPK penuh SMK Negeri 1 Kalianget, Kabupaten Sumenep, yang berhasil meraih Juara 3 dalam kompetisi pengembangan ekosistem kreatif berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan wilayah bukan alasan bagi tenaga pendidik untuk tertinggal dalam persaingan teknologi dan industri kreatif.
Mifta meraih penghargaan setelah mengikuti kompetisi bertema Short Drama AI dalam program Peningkatan SDM Guru SMK Provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Jawa Timur bekerja sama dengan BOKE Technology dan Bytendance.
Kompetisi tersebut melibatkan 50 peserta dari SMK di Jawa Timur. Puncak penghargaannya berlangsung dalam rangkaian International Seminar: AI-Powered Creative Ecosystems, Industry Development Pathways & Global Prospects di Gedung Sabha Nugraha, Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jumat (30/10/2026).
Keberhasilan Mifta mendapat apresiasi dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep, Dr. Rusliy, M.Pd. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa guru di Sumenep memiliki kemampuan dan peluang yang sama untuk berkembang serta bersaing di bidang teknologi.
Dr. Rusliy menegaskan, penguasaan teknologi digital, termasuk AI, tidak boleh lagi dipandang sebagai kemampuan tambahan bagi guru. Perubahan teknologi menuntut pendidik terus meningkatkan kompetensi agar proses pembelajaran tidak tertinggal dari perkembangan zaman.
“Guru tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga dituntut mampu mengikuti perubahan teknologi agar pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan zaman,” kata Rusliy kepada media, Sabtu (31/10/2026).
Ia berharap pencapaian Mifta tidak berhenti sebagai prestasi individu, tetapi menjadi pemantik bagi guru lainnya untuk berani mencoba, berinovasi, dan meningkatkan kapasitas diri.
Bahkan, raihan Juara 3 tersebut membuka peluang bagi Mifta untuk mengikuti kompetisi di luar negeri. Kesempatan itu dinilai dapat memperluas pengalaman, wawasan, dan jejaring profesional di tingkat internasional.
“Ini adalah kesempatan dan peluang yang luar biasa. Tentu saya berharap ke depan akan semakin banyak guru di Sumenep seperti Mifta. Semua memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk terus berinovasi dan berkembang, sehingga pendidikan benar-benar berdampak bagi kemajuan anak bangsa,” ujarnya.

Bukan Kali Pertama Berprestasi di Bidang AI
Prestasi Mifta dalam kompetisi AI bukan pencapaian pertamanya. Sebelumnya, ia juga meraih Juara II dalam kompetisi Karya Drama Komik AI bertema “PAHLAWAN” melalui karya berjudul Bayu 1771 – Api Terakhir Blambangan.
Dua penghargaan tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai sarana berkarya dan mengembangkan kreativitas digital.
Di SMKN 1 Kalianget, Mifta mengajar bidang Teknik Komputer dan Informatika, khususnya mata pelajaran Konsentrasi Keahlian Desain Komunikasi Visual. Ia juga mendapat tugas tambahan sebagai staf hubungan masyarakat yang menangani website dan media sosial sekolah.
Guru kelahiran Banyuwangi, 8 Februari 1992, dan berasal dari Desa Jenangger, Kecamatan Batang-Batang, itu kini menjadi salah satu representasi pendidik Sumenep yang mampu berkompetisi dalam perkembangan teknologi kreatif.
Rusliy berharap keberhasilan tersebut dapat mendorong sekolah dan tenaga pendidik semakin terbuka terhadap pemanfaatan teknologi AI, bukan sekadar sebagai tren, melainkan sebagai instrumen untuk menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif.
“Keberhasilan Mifta diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi dorongan bagi ekosistem pendidikan di Sumenep untuk semakin terbuka terhadap inovasi, teknologi AI, dan pengembangan kreativitas digital,” harapnya.
Sementara itu, Mifta menyampaikan terima kasih atas dukungan Cabang Dinas Pendidikan, SMKN 1 Kalianget, serta rekan-rekan guru di Kabupaten Sumenep.
Menurutnya, setiap guru memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti kompetisi dan mengembangkan kemampuan, selama memiliki kemauan untuk belajar dan mencoba.
“Selama ada keinginan, tentu semua punya kesempatan yang sama. Awalnya saya juga tidak pernah berpikir akan meraih juara. Namun, pada prinsipnya saya tetap yakin bahwa ketika kita berjuang, hasil pasti akan ada,” ungkapnya.
Prestasi Mifta sekaligus mengirimkan pesan bahwa guru daerah tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga harus berani menciptakan karya dan mengambil bagian dalam perkembangan industri kreatif berbasis AI.
Penulis : Efa
Editor : You
















