Tradisi Macapatan Sumenep Mengantar Rusliy ke Puncak Akademik, dari Guru hingga Kepala Cabdindik Jatim Wilayah Sumenep
SETARAJATIM.COM, SUMENEP – Perjalanan panjang dunia pendidikan yang ditempuh Rusliy, S.Pd., M.Pd., memasuki babak penting. Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep itu menjalani Ujian Disertasi Terbuka Program Doktor (S-3) Pendidikan Bahasa dan Sastra di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (18/6/2026).
Dalam ujian terbuka tersebut, Rusliy mengangkat disertasi berjudul “Tradisi Macapatan di Sumenep (Kajian Semionaratoperformance)”, sebuah penelitian yang mengkaji tradisi sastra lisan khas Madura yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Sumenep.
Pemilihan tema tersebut dinilai selaras dengan kiprah Rusliy yang selama ini dikenal sebagai figur pendidikan yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya lokal, khususnya bahasa dan sastra Madura.
Disertasi itu dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. H. Setya Yuwana, M.A. dan Co-promotor Dr. Titik Indarti, M.Pd., serta dipresentasikan di hadapan tim penguji Program Studi S-3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Unesa.
Keikutsertaan Rusliy dalam ujian doktoral menjadi puncak perjalanan akademik yang dibangun melalui proses panjang sejak berkarier sebagai guru hingga dipercaya memimpin pendidikan menengah dan pendidikan khusus di Kabupaten Sumenep.
Berawal dari Guru
Rusliy memulai pengabdiannya sebagai tenaga pendidik dengan menjadi guru di lingkungan sekolah menengah. Dedikasinya dalam dunia pendidikan membuatnya dikenal sebagai sosok yang aktif mendorong peningkatan mutu pembelajaran sekaligus pengembangan karakter peserta didik.
Berbekal pengalaman mengajar dan kemampuan manajerial, kariernya terus berkembang. Ia kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis di lingkungan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep.
Sebelum menjabat Kepala Cabdindik, Rusliy diketahui pernah mengemban amanah sebagai Kasi SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sumenep dan terlibat aktif dalam berbagai program pembinaan sekolah menengah atas di wilayah daratan maupun kepulauan Sumenep.
Dalam berbagai kesempatan, Rusliy dikenal sebagai birokrat pendidikan yang dekat dengan kalangan guru dan kepala sekolah. Ia juga aktif mendukung penguatan literasi, kesetaraan gender dalam pendidikan, serta inovasi pembelajaran di sekolah.
Dipercaya Menjadi Kepala Cabdindik
Pada akhir 2025, Rusliy resmi menerima tongkat estafet kepemimpinan sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep menggantikan Dr. Budi Sulistyo. Dalam serah terima jabatan tersebut, ia menegaskan komitmennya untuk meningkatkan prestasi siswa dan guru serta mendorong lahirnya berbagai inovasi pendidikan di sekolah.
Saat ini Rusliy memimpin pelaksanaan berbagai kebijakan pendidikan tingkat SMA, SMK, dan SLB di Kabupaten Sumenep sebagai perpanjangan tangan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Di bawah kepemimpinannya, sejumlah program penguatan karakter dan budaya lokal mulai digalakkan. Salah satu yang mendapat perhatian publik adalah program “Satu Hari Berbahasa Madura Enggi Bhunten” yang diluncurkan pada momentum Hari Pendidikan Nasional 2026. Program tersebut bertujuan menjaga eksistensi bahasa Madura halus di kalangan generasi muda.
Rusliy menilai pelestarian bahasa daerah merupakan bagian penting dari pendidikan karakter sekaligus upaya menjaga identitas budaya masyarakat Madura di tengah perkembangan zaman.
Menyatukan Akademik dan Budaya
Ujian disertasi yang dijalani Rusliy menjadi simbol perpaduan antara dunia akademik dan praktik pendidikan yang selama ini ia geluti. Penelitian mengenai tradisi Macapatan menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga warisan budaya lokal.
Dinyatakan lulus, Rusliy kini resmi menyandang gelar doktor setelah menempuh perjalanan panjang sebagai guru, pengelola pendidikan, pejabat struktural, hingga pemimpin Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep.
Pencapaian tersebut sekaligus menjadi inspirasi bagi para guru dan tenaga kependidikan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia maupun jabatan.
Dari ruang kelas hingga ruang sidang doktoral, Rusliy menunjukkan bahwa dedikasi terhadap pendidikan dapat berjalan seiring dengan semangat menuntut ilmu sepanjang hayat.
Penulis : Yud
Editor : Fa
















