Dari Madura untuk Generasi: Jejak Pengabdian Achsanul Qosasi yang Tak Pernah Padam, Menghidupkan Harapan di Hati Anak Negeri

Jumat, 27 Maret 2026 - 09:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Dr. Achsanul Qosasi (kanan) bersama Moh. Iskil El-Fatih

Prof. Dr. Achsanul Qosasi (kanan) bersama Moh. Iskil El-Fatih

Dari Madura untuk Generasi: Jejak Pengabdian Achsanul Qosasi yang Tak Pernah Padam, Menghidupkan Harapan di Hati Anak Negeri

SETARAJATIM.COM, SUMENEP – Di zaman yang serba cepat ini, ketika informasi mengalir tanpa henti dan opini terbentuk hanya dalam hitungan detik, generasi muda kerap terjebak dalam pusaran penilaian yang dangkal.

Segala sesuatu seolah bisa disimpulkan seketika, tanpa ruang untuk memahami, tanpa waktu untuk merenungi. Padahal, kehidupan seorang tokoh tidak pernah sesederhana satu peristiwa yang terlihat di permukaan.

Ada perjalanan panjang, ada pengorbanan yang tak selalu tampak, dan ada jejak langkah yang perlahan namun pasti membentuk makna. Inilah yang kemudian menjadi pengingat penting bagi generasi hari ini—bahwa memahami seseorang membutuhkan kedalaman hati, bukan sekadar kecepatan jari.

Hal tersebut disampaikan oleh Moh Iskil El Fatih, yang melihat bahwa generasi muda sejatinya memiliki potensi besar untuk menjadi lebih bijak dalam membaca realitas.

Aktivis muda itu menekankan bahwa di tengah derasnya arus informasi, justru diperlukan ketenangan berpikir dan keluasan pandang untuk memahami konteks yang lebih utuh.

“Dalam lanskap Madura, nama Pak Achsanul Qosasi hadir bukan sekadar sebagai figur publik, tetapi sebagai representasi dari pengabdian yang terus menyala. Sosok yang tak hanya dikenal karena posisinya, tetapi juga karena jejak nyata yang ditinggalkannya di berbagai lini kehidupan masyarakat” kata dia, Jumat (27/3/2026).

Melalui dunia olahraga, khususnya lewat kiprahnya bersama Madura United, ia telah menghadirkan ruang harapan yang begitu luas bagi generasi muda.

Lapangan hijau bukan lagi sekadar tempat bertanding, tetapi menjadi ruang belajar tentang arti mimpi, tentang kerja keras yang tak kenal lelah, dan tentang bagaimana mencintai tanah kelahiran dengan penuh kebanggaan.

“Di sana, anak-anak muda Madura tidak hanya berlari mengejar bola, tetapi juga mengejar masa depan. Mereka belajar bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan titik awal untuk melangkah lebih jauh” ungkapnya.

Namun, lanjut Mahasiswa UNIBA Madura itu, pengabdian itu tidak berhenti di satu bidang. Ia merambat ke berbagai aspek kehidupan—menyentuh dunia pendidikan, mendorong kesadaran akan pentingnya pembangunan sumber daya manusia, hingga hadir di tengah dinamika sosial masyarakat sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.

“Setiap langkah yang diambil seolah menjadi pesan diam bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar, tetapi dari konsistensi dalam berbuat kebaikan” tuturnya dengan santai.

Dalam pandangan Iskil, inilah yang seharusnya menjadi cermin bagi generasi hari ini. Bahwa melihat seorang tokoh tidak cukup dari apa yang tampak di permukaan, tetapi dari apa yang telah ia berikan kepada sekitarnya. Dari seberapa besar dampak yang dirasakan oleh masyarakat, hingga seberapa banyak harapan yang berhasil ia tumbuhkan.

Menariknya, di tengah stigma bahwa Generasi Z cenderung reaktif dan instan, kini mulai tumbuh kesadaran baru. Sebuah cara pandang yang lebih dalam, lebih reflektif.

“Mereka mulai belajar bahwa tidak semua hal bisa dinilai secara hitam dan putih, bahwa ada proses panjang di balik setiap pencapaian, dan ada cerita yang layak untuk dipahami, bukan sekadar dihakimi” katanya.

Dari Madura, sebuah pelajaran penting itu terus hidup. Bahwa pengabdian sejati tidak pernah kehilangan makna, meski waktu terus berjalan. Ia akan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh—dalam semangat, dalam inspirasi, dan dalam langkah-langkah kecil generasi penerus yang melanjutkan mimpi.

Pada akhirnya, yang akan bertahan bukanlah suara-suara bising yang datang dan pergi, bukan pula penilaian sesaat yang mudah berubah arah. Yang akan tetap hidup adalah jejak—jejak yang tertanam dalam hati, dirasakan dalam kehidupan, dan diwariskan dalam bentuk harapan.

“Dan dari tanah Madura, jejak itu terus berbisik lirih namun kuat: bahwa setiap pengabdian yang tulus, sekecil apa pun, akan selalu menemukan tempatnya di masa depan” pungkas Iskil.

(why/fa)

Berita Terkait

Sidak Masih Temukan ASN Tak Disiplin, Wabup Sumenep Desak Pimpinan OPD Bertindak
Bos PT Pulau Garam Dukung Konkurs Perkutut Sumenep, Tegaskan Pentingnya Pelestarian Budaya
Prosesi Arya Wiraraja, Bupati Sumenep Dorong Kharisma Event Nusantara Jadi Panggung Promosi Budaya Daerah
Hari Jadi ke-757 Sumenep Tak Sekadar Seremoni, 125 Anak Unjuk Kreativitas di Hadapan Bupati Fauzi
TDA 9.0 Bidik Pengusaha Daerah Naik Kelas, Teknologi dan Akses Pasar Jadi Kunci
Sumenep Sapu Bersih Podium Poster Nasional 2026, Zahra Siswi MAN Jadi Juara Pertama
Perkimhub Sumenep Targetkan 118 Titik PJU pada 2026, Lampu Tertutup Pohon Jadi Sorotan
DPMD Sumenep Desak Daud Samsuddin Hadir, Tunggakan Gaji Perangkat Desa Pagerungan Besar 9 Bulan Belum Tuntas

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:21 WIB

Sidak Masih Temukan ASN Tak Disiplin, Wabup Sumenep Desak Pimpinan OPD Bertindak

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:44 WIB

Bos PT Pulau Garam Dukung Konkurs Perkutut Sumenep, Tegaskan Pentingnya Pelestarian Budaya

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:23 WIB

Prosesi Arya Wiraraja, Bupati Sumenep Dorong Kharisma Event Nusantara Jadi Panggung Promosi Budaya Daerah

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:35 WIB

Hari Jadi ke-757 Sumenep Tak Sekadar Seremoni, 125 Anak Unjuk Kreativitas di Hadapan Bupati Fauzi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:12 WIB

TDA 9.0 Bidik Pengusaha Daerah Naik Kelas, Teknologi dan Akses Pasar Jadi Kunci

Berita Terbaru