Kirab Kebangsaan UNIBA Madura Tutup Ospek 2026, Nasionalisme Dipadukan dengan Budaya Lokal
SETARAJATIM.COM, SUMENEP — Universitas Bahaudin (UNIBA) Madura menutup rangkaian orientasi mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027 melalui Kirab Kebangsaan yang digelar Senin malam (24/8/2026).
Kegiatan yang dipimpin Bagus R selaku Ketua Pelaksana tersebut tidak sekadar dikemas sebagai seremoni penutup ospek. Kirab menjadi ruang untuk memperkenalkan mahasiswa baru pada nilai kebangsaan, kebersamaan, sekaligus budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Kirab berlangsung meriah dengan melibatkan mahasiswa baru UNIBA 2026, dosen, panitia, masyarakat, serta penampilan Drumband “Swara De Patshia” SMPN 4 Sumenep. Irama drumband berpadu dengan hiburan tradisional tongtong yang mengiringi jalannya peserta.
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu poin penting dalam kegiatan tersebut. Aktivitas mahasiswa tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dibawa ke ruang publik sehingga tercipta interaksi langsung antara sivitas akademika dan masyarakat.
Bagi mahasiswa baru, momentum tersebut sekaligus menjadi pintu awal untuk memahami bahwa kehidupan perguruan tinggi tidak hanya berkutat pada ruang kuliah. Mahasiswa dituntut mampu membangun relasi sosial, berorganisasi, berkreasi, serta memiliki kepekaan terhadap persoalan di lingkungan sekitarnya.
Ketua Pelaksana Kirab Kebangsaan, Bagus R, menegaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang agar memiliki pesan yang lebih kuat daripada sekadar kemeriahan.
“Kami ingin menghadirkan kegiatan yang bukan hanya meriah, tetapi juga memiliki nilai. Melalui kirab ini, kami ingin mempertemukan mahasiswa, dosen, panitia, dan masyarakat dalam satu semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap bangsa,” ujar Bagus R.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa orientasi mahasiswa baru tidak semestinya hanya berhenti pada pengenalan fasilitas dan lingkungan kampus. Lebih jauh, kegiatan tersebut dapat menjadi medium pembentukan karakter mahasiswa sejak awal memasuki dunia perguruan tinggi.
Perpaduan budaya lokal dan semangat kebangsaan juga memberikan warna tersendiri. Tradisi tongtong yang hadir dalam kirab bukan hanya menjadi hiburan, tetapi ditempatkan sebagai bagian dari identitas budaya yang dapat diperkenalkan kepada generasi muda.
Di sisi lain, keterlibatan Drumband “Swara De Patshia” SMPN 4 Sumenep memperkuat suasana kirab sekaligus menunjukkan adanya kolaborasi lintas lingkungan pendidikan dalam kegiatan tersebut.
UNIBA Madura melalui momentum ini menunjukkan upaya membangun kegiatan kemahasiswaan yang lebih terbuka dan tidak terpisah dari kehidupan masyarakat. Namun, ukuran keberhasilan orientasi mahasiswa baru pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan acara, melainkan sejauh mana nilai kebangsaan, kedisiplinan, kreativitas, kepemimpinan, dan kepedulian sosial benar-benar tumbuh dalam kehidupan mahasiswa setelah kegiatan berakhir.
Karena itu, Kirab Kebangsaan dapat dipandang sebagai titik awal, bukan tujuan akhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat kebersamaan yang dibangun selama kegiatan mampu diterjemahkan mahasiswa baru dalam aktivitas akademik, organisasi, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Dengan demikian, penutupan ospek UNIBA Madura tidak berhenti pada sorak-sorai dan irama kirab. Ada pesan yang lebih substantif: perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membentuk generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga berkarakter, memiliki kesadaran kebangsaan, menghargai budaya lokal, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
“UNIBA Madura menutup ospek dengan kirab. Namun, pembentukan karakter mahasiswa baru justru dimulai setelah kirab berakhir”
Penulis : You
Editor : Fa
















