HAM dalam Islam: Menepis Mitos, Meneguhkan Martabat Manusia
Oleh: Hairatul Hasanah
Mahasiswa Prodi PGMI STITA Sumenep
_____________________________________
OPINI – Kasus perundungan, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, kekerasan yang mengatasnamakan agama, hingga maraknya ujaran kebencian di media sosial menunjukkan bahwa persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia. Ironisnya, di tengah berbagai persoalan tersebut masih berkembang anggapan bahwa HAM merupakan konsep yang lahir dari Barat dan tidak sejalan dengan ajaran Islam. Pandangan seperti ini perlu diluruskan agar tidak melahirkan kesalahpahaman yang semakin menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai kemanusiaan.
Pada hakikatnya, Islam hadir sebagai agama yang memuliakan manusia. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa membedakan suku, ras, warna kulit, maupun status sosial. Kemuliaan tersebut menjadi dasar bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup, memperoleh keadilan, menyampaikan pendapat, serta mendapatkan perlakuan yang bermartabat. Nilai-nilai tersebut bukanlah konsep yang asing dalam Islam, melainkan bagian dari ajaran yang telah diwariskan sejak awal.
Memang, kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas. Setiap hak selalu diiringi dengan tanggung jawab moral agar tidak merugikan hak orang lain. Dengan demikian, kebebasan berekspresi, berpendapat, maupun bertindak harus tetap berada dalam koridor keadilan, etika, dan kemaslahatan bersama.
Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam perlindungan HAM. Kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence), media sosial, dan teknologi digital telah mempermudah akses informasi dan komunikasi.
Namun, kemajuan tersebut juga membawa risiko berupa pelanggaran privasi, penyebaran hoaks, diskriminasi digital, hingga perundungan siber. Karena itu, kemajuan teknologi tidak cukup diukur dari kecanggihannya semata, tetapi juga dari sejauh mana teknologi mampu menjaga harkat dan martabat manusia.
Perspektif kemanusiaan mengajarkan bahwa penghormatan terhadap HAM harus dimulai dari kehidupan sehari-hari. Menghargai perbedaan pendapat, menolak ujaran kebencian, tidak melakukan perundungan, serta menggunakan teknologi secara bijaksana merupakan wujud nyata penghormatan terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip Islam yang menjunjung tinggi keadilan (al-‘adl), kasih sayang (rahmah), dan kemaslahatan (maslahah).
Sudah saatnya perdebatan mengenai HAM tidak lagi terjebak pada dikotomi antara “Barat” dan “Islam”. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Islam, perkembangan sains dan teknologi, serta prinsip-prinsip kemanusiaan dapat berjalan beriringan dalam melindungi martabat setiap insan.
Sebab, ukuran kemajuan sebuah peradaban bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, melainkan juga oleh kemampuannya menghormati, melindungi, dan memuliakan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Penulis : Hairatul Hasanah
Editor : You
















