Dilema Ketika Mesin Pintar Mencoba Meniru Getaran Khusyuk Manusia
Oleh: Shofin Hilyatun Nisa’M
Mahasiswa Program Studi PGMI, IAI Aqidah Usyumuni
OPINI – Belakangan ini, lini masa media sosial dipenuhi berbagai capaian menakjubkan dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI). Kita sedang hidup pada era yang oleh Klaus Schwab (2016) dalam The Fourth Industrial Revolution disebut sebagai fase ketika batas antara dunia fisik, digital, dan biologis semakin kabur.
Di satu sisi, perkembangan sains dan teknologi menghadirkan kemudahan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Namun, di sisi lain, fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika mesin mampu meniru hampir segala hal yang dilakukan manusia, lalu apa yang masih menjadi ciri khas kemanusiaan kita?
Secara ilmiah, AI merupakan puncak perkembangan pemodelan matematis, algoritma, dan pemrosesan data dalam skala besar (big data). Kemampuannya mengolah informasi dengan cepat telah merevolusi berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga dunia industri. Akan tetapi, kemajuan tersebut juga menghadirkan konsekuensi sosial yang tidak dapat diabaikan.
Sherry Turkle (2011), sosiolog dari MIT, dalam bukunya Alone Together mengingatkan bahwa ketika teknologi menawarkan kenyamanan yang berlebihan, manusia berpotensi kehilangan kemampuan untuk membangun relasi yang mendalam dan memelihara empati. Krisis kemanusiaan dimulai ketika interaksi digantikan oleh otomatisasi, sementara kedekatan emosional perlahan memudar.
Masyarakat pun berisiko menjadi semakin mekanistis—menilai segala sesuatu hanya berdasarkan angka, kecepatan, dan hasil akhir, sembari melupakan makna proses, pengalaman, dan kedalaman rasa.
Dalam perspektif Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan amanah sekaligus sarana untuk meneguhkan peran manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi), sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 30. Dengan demikian, AI semestinya menjadi wasilah (alat) untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan justru mengikis nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti penciptaan manusia.
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir (tafakkur), merenung (tadabbur), dan menggunakan akal secara bijaksana. Proses berpikir dalam Islam bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan juga melibatkan dimensi spiritual. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa kecerdasan sejati (al-‘aql) tidak dapat dipisahkan dari kesucian hati (qalb) dan kemuliaan akhlak. Akal tanpa hati hanya akan melahirkan kecanggihan, tetapi belum tentu menghadirkan kebijaksanaan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara manusia dan mesin. AI dapat menulis doa, menyusun ceramah, bahkan meniru gaya bahasa para ulama. Namun, ia tidak akan pernah merasakan getaran khusyuk ketika bersujud, kegelisahan saat bermunajat, ataupun keikhlasan yang lahir dari hati seorang hamba. Mesin mampu mereproduksi kata-kata, tetapi tidak dapat menghadirkan makna batin yang melatarinya.
Karena itu, tantangan terbesar kita hari ini bukan lagi sebatas menciptakan teknologi yang semakin canggih, melainkan memastikan bahwa kemajuan tersebut tidak mengikis sisi humanis manusia.
AI boleh mengambil alih pekerjaan-pekerjaan teknis dan administratif, tetapi ia tidak boleh menggantikan kebijaksanaan, empati, kepedulian sosial, serta spiritualitas yang menjadi fondasi peradaban.
Pada akhirnya, respons terbaik terhadap kemajuan sains bukanlah ketakutan ataupun penolakan, melainkan sikap bijaksana dalam memanfaatkannya. Manusia harus tetap menjadi subjek yang mengendalikan teknologi, bukan objek yang dikendalikan olehnya.
Sebab, secanggih apa pun mesin diciptakan, ia tetap tidak akan mampu menggantikan hati yang mampu mencintai, nurani yang mampu membedakan benar dan salah, serta jiwa yang tunduk kepada Sang Pencipta. Di sanalah letak keistimewaan manusia yang sesungguhnya.
Penulis : Shofin Hilyatun Nisa' M
Editor : You
















