Toilet Puskesmas Bluto Dikeluhkan Bau dan Jorok, Pelayanan Kesehatan Disorot
SETARAJATIM.COM, SUMENEP — Puskesmas semestinya menjadi tempat masyarakat mencari kesembuhan. Namun, keluhan pengunjung terhadap kondisi fasilitas di Puskesmas Bluto, Kabupaten Sumenep, justru memunculkan pertanyaan tentang standar kebersihan ruang pelayanan publik tersebut.
Keluhan terutama mengarah pada area toilet yang disebut mengeluarkan bau tidak sedap dan tampak kurang terawat. Sejumlah bagian fasilitas terlihat kotor, mulai dari area wastafel hingga lantai kamar mandi.
Noda tampak pada beberapa bagian dinding dan lantai, sementara sebagian keramik juga dilaporkan mengalami kerusakan. Kondisi tersebut terlihat pada Minggu (16/8/2026), di area yang digunakan pasien maupun keluarga pasien.
Bagi pengunjung, persoalannya bukan sekadar toilet yang kotor. Fasilitas sanitasi di pusat pelayanan kesehatan seharusnya menjadi bagian paling mendasar yang dijaga kebersihannya.
Jika area tersebut justru menimbulkan bau dan ketidaknyamanan, wajar apabila kualitas pengelolaan fasilitas kemudian dipertanyakan.
Salah seorang pengunjung pasien yang enggan disebutkan namanya mengaku terganggu dengan kondisi kamar mandi tersebut.
“Tercium bau tidak sedap dari kamar mandinya. Kondisinya juga sangat kotor. Gimana pasien mau cepat sembuh kalau lingkungannya seperti itu,” ujarnya.
Keluhan itu menjadi catatan tersendiri bagi pengelola Puskesmas Bluto. Sebab, masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan bukan hanya membutuhkan pelayanan medis, tetapi juga lingkungan yang bersih, aman, nyaman dan layak digunakan.
Apalagi, toilet merupakan fasilitas yang bersentuhan langsung dengan pasien dan pengunjung. Kebersihan serta kelayakannya semestinya tidak menunggu viral, dikeluhkan, atau mendapat sorotan publik terlebih dahulu.
Kepala Puskesmas Bluto, dr. Rifmi, dikonfirmasi melalui WhatsApp mengenai keluhan tersebut. Ia mengakui telah menerima informasi dan berjanji segera menindaklanjutinya.
“Trims masukannya, segera kami tindaklanjuti,” jawabnya singkat.
Respons tersebut patut diapresiasi. Namun, publik tentu tidak hanya membutuhkan jawaban singkat. Yang lebih penting adalah pembuktian di lapangan: apakah toilet yang dikeluhkan benar-benar dibersihkan, fasilitas yang rusak diperbaiki, dan sumber bau ditangani.
Sebab, wajah pelayanan kesehatan tidak hanya terlihat dari dokter, tenaga medis, atau kecepatan pelayanan. Kebersihan toilet pun menjadi cermin sederhana tentang bagaimana sebuah fasilitas kesehatan dikelola.
Kini, tindak lanjut Puskesmas Bluto menjadi penantian. Apakah keluhan tersebut akan berujung pada pembenahan nyata, atau kembali menjadi persoalan yang selesai di meja konfirmasi?
Penulis : You
Editor : Fa
















