Jiwa yang Retak di Ruang Digital: Menakar Urgensi Pendidikan Insan Kamil
Oleh: Sariatul Latifah
Mahasiswa Program Studi PGMI, STITA Aqidah Usyumuni
____________________________________
OPINI – Dunia saat ini tengah dihadapkan pada sebuah paradoks yang mencemaskan. Di satu sisi, perkembangan sains dan teknologi komunikasi melaju begitu pesat, meruntuhkan sekat ruang dan waktu serta menghadirkan kemudahan dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia.
Namun, di sisi lain, kemajuan tersebut justru diiringi oleh meningkatnya krisis kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda. Berbagai penelitian psikologi kontemporer menunjukkan peningkatan kasus kecemasan (anxiety), depresi, hingga alienasi sosial yang dipicu oleh tekanan kehidupan digital dan media sosial.
Kita hidup di era yang sangat terkoneksi secara digital, tetapi pada saat yang sama mengalami kekosongan makna dan keterasingan secara spiritual.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Salah satu akar persoalannya terletak pada disorientasi sistem pendidikan modern yang semakin terjebak dalam pragmatisme. Kurikulum kerap direduksi menjadi instrumen untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja dan meningkatkan kecakapan teknologis semata.
Lembaga pendidikan berlomba mencetak lulusan yang unggul dalam penguasaan sains, teknologi, dan algoritma, tetapi sering kali mengabaikan pembentukan karakter, ketahanan mental, serta empati sosial.
Akibatnya, lahirlah bentuk dehumanisasi yang berlangsung secara perlahan. Pendidikan lebih sibuk “mengisi kepala” daripada “merawat jiwa”, sehingga banyak individu tumbuh cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara emosional dan spiritual.
Dalam perspektif Islam, manusia tidak dipandang sekadar sebagai sumber daya ekonomi, melainkan sebagai makhluk yang dimuliakan Allah dengan potensi akal (aqliyyah) dan ruh (ruhiyyah) yang harus berkembang secara seimbang.
Gagasan ini terangkum dalam konsep Insan Kamil, yakni manusia paripurna yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, keluhuran akhlak, dan tanggung jawab sosial.
Pendidikan, karena itu, tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang kompeten, tetapi juga harus melahirkan pribadi yang berkarakter, berempati, dan berintegritas.
Konsep tersebut menjadi semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi. Pendidikan berbasis nilai (value-based education) harus kembali ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan peradaban.
Sains dan teknologi tidak boleh berkembang tanpa arah moral. Sebaliknya, keduanya harus dipandu oleh nilai-nilai etika dan kemanusiaan agar benar-benar menjadi instrumen kemaslahatan, bukan justru melahirkan krisis identitas dan degradasi moral.
Menghadapi epidemi kesehatan mental di era digital, rekonstruksi paradigma pendidikan menjadi sebuah keniscayaan. Sekolah dan perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi ruang yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan.
Tetapi juga menumbuhkan keteladanan, membangun ketahanan batin melalui tazkiyatun nafs, serta menguatkan kepedulian sosial. Pendidikan harus mampu menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan akademik, kecakapan teknologi, dan kedewasaan spiritual.
Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan bukan sekadar mencetak generasi yang mampu bersaing di era kecerdasan buatan, melainkan melahirkan manusia yang tetap utuh di tengah derasnya arus digitalisasi.
Kita tidak pernah benar-benar kekurangan orang pintar, tetapi kita mulai kekurangan manusia yang bijaksana. Menghidupkan kembali nilai-nilai Insan Kamil dalam sistem pendidikan merupakan ikhtiar nyata untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berada di bawah kendali nurani manusia.
Sebab, masa depan peradaban tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang kita ciptakan, tetapi juga oleh kualitas jiwa manusia yang menggunakannya.
Penulis : Sariatul Latifah
Editor : You
















