Debat Kandidat BEM-KM STAIM Uji Gagasan dan Integritas Calon Pemimpin Mahasiswa
SETARAJATIM.COM, SUMENEP – Regenerasi kepemimpinan mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIM) mendapat ruang serius melalui Debat Kandidat Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) STAIM.
Debat yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Musyawarah Besar (MUBES) BEM-KM STAIM itu menjadi panggung bagi dua pasangan calon untuk menguji gagasan, visi, misi, sekaligus kesiapan mereka memimpin organisasi mahasiswa ke depan.
Mengusung tema “Membangun Regenerasi Kepemimpinan Mahasiswa yang Amanah, Berintegritas, dan Berlandaskan Nilai-Nilai Islam untuk BEM-KM yang Progresif”, forum tersebut tidak sekadar menjadi ajang adu argumentasi. Lebih dari itu, debat diarahkan untuk mengukur kapasitas calon pemimpin dalam membaca persoalan mahasiswa dan menawarkan solusi yang konkret.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua STAIM Moh. Sholeh, M.Pd., jajaran civitas akademika, panelis, panitia, serta mahasiswa STAIM.
Ketua STAIM Moh. Sholeh mengapresiasi pelaksanaan debat kandidat sebagai bagian penting dari proses demokrasi dan regenerasi kepemimpinan mahasiswa.
Menurutnya, demokrasi di lingkungan kampus harus mampu melahirkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan berorganisasi, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, tanggung jawab, serta nilai moral.
Sementara itu, Ketua BEM-KM STAIM Ahmad Fadlan Masykuri menegaskan bahwa regenerasi merupakan bagian penting untuk memastikan keberlanjutan organisasi mahasiswa.
Ia menilai debat kandidat harus mampu menjadi ruang untuk menguji kualitas gagasan para calon, bukan sekadar mempertontonkan kemampuan berargumentasi.
“Pemimpin mahasiswa bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan suara terbanyak, tetapi siapa yang siap menerima amanah, menjaga integritas, dan bekerja untuk kepentingan seluruh mahasiswa,” tegas Ahmad Fadlan Masykuri, Jumat (14/8/2026).
Dalam debat, sejumlah isu strategis menjadi perhatian. Di antaranya penyelesaian konflik organisasi, program kerja pada satu bulan pertama kepemimpinan, penguatan kolaborasi antara BEM dengan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga upaya membangun budaya literasi di lingkungan kampus.
Persoalan relasi antara mahasiswa dan pengelola kampus juga menjadi pesan penting dalam forum tersebut.
Dalam closing statement-nya, Ahmad Fadlan Masykuri mengingatkan bahwa BEM memiliki posisi strategis sebagai penyambung aspirasi mahasiswa sekaligus jembatan komunikasi dengan pihak pengelola kampus.
Ia menekankan, calon pengurus BEM ke depan harus mampu menjadi penengah ketika muncul persoalan antara mahasiswa dan pengelola.
“Ketika ada keluhan dari mahasiswa, bagaimana cara kalian nantinya melakukan advokasi harus tetap mengedepankan adab dan etika. Artinya, tidak radikal dan harus mampu diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” ujarnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa sikap mengedepankan dialog tidak berarti BEM harus kehilangan keberanian dalam memperjuangkan kepentingan mahasiswa.
Menurutnya, BEM tetap harus kritis apabila terdapat kebijakan birokrasi yang dinilai menyeleweng atau tidak berpihak kepada mahasiswa.
“Bukan berarti kita patuh dan taat pada birokrasi yang menyeleweng atau tidak berpihak kepada mahasiswa. Apalagi sebentar lagi kita akan menjadi institut, tidak lagi sekolah tinggi,” tegasnya.
Pesan tersebut menempatkan BEM bukan hanya sebagai pelaksana program kerja internal mahasiswa, tetapi juga sebagai organisasi yang memiliki tanggung jawab melakukan advokasi dan menjaga komunikasi sehat antara mahasiswa dengan institusi.
Melalui debat kandidat ini, mahasiswa diharapkan tidak menentukan pilihan hanya berdasarkan popularitas calon. Sebaliknya, mahasiswa didorong menilai rekam gagasan, kapasitas, integritas, serta keberanian setiap pasangan calon dalam menawarkan arah perubahan bagi organisasi.
Debat kandidat sekaligus menjadi momentum untuk memastikan estafet kepemimpinan BEM-KM STAIM tidak berhenti pada pergantian nama dan struktur kepengurusan.
Regenerasi diharapkan melahirkan pemimpin yang mampu menjaga amanah, kritis terhadap persoalan, tetap menjunjung nilai-nilai Islam, serta progresif dalam memperjuangkan kepentingan mahasiswa.
Dengan demikian, MUBES BEM-KM STAIM bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan, melainkan bagian dari proses menyiapkan generasi kepemimpinan mahasiswa yang memiliki integritas, keberanian dan tanggung jawab terhadap organisasi.
BEM-KM STAIM — Amanah dalam Kepemimpinan, Progresif dalam Pergerakan.
Penulis : WD
Editor : You
















